Sumut Foundation: Evaluasi Harus Profesional, Jangan Ada Penghakiman dalam Kasus Tanggul Dalu Dalu
MEDAN — Direktur Eksekutif Sumut Foundation, yang juga mantan Sekretaris Jenderal BEM IAIN Sumut 2009, Andi Kurniansyah Sirait, memberikan tanggapan resmi atas ambruknya tanggul Sungai Dalu Dalu di Desa Suka Raja, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara.
Ia menegaskan bahwa kejadian ini harus ditempatkan dalam konteks bencana hidrometeorologi ekstrem, bukan dijadikan dasar untuk menyerang pihak mana pun.
“Kita menghadapi situasi alam yang daya rusaknya di luar batas kewajaran. Kerusakan ini bukan kasus tunggal; hampir seluruh daerah aliran sungai di Sumatera Utara mengalami hal serupa. Karena itu, sangat tidak tepat jika kesimpulan dipaksakan tanpa kajian teknis mendalam,” ujarnya.
Kerusakan tanggul yang terjadi pada Sabtu (29/11/2025) sore itu memunculkan berbagai komentar publik karena bangunan tersebut baru beberapa bulan selesai dikerjakan.
Proyek tersebut dibangun pada masa Zivo Madresty Hutabarat masih menjabat sebagai Kepala UPTD PUPR Tanjung Balai, sebelum beliau kemudian dipindahkan ke posisi baru.
Sejumlah kalangan menyoroti proyek tersebut, namun para pemerhati pembangunan mengingatkan bahwa setiap keputusan konstruksi merupakan kerja kolektif sebuah institusi, bukan tanggung jawab personal semata.
Lebih jauh, Direktur Sumut Foundation menegaskan bahwa selama masa jabatannya, Zivo Madresty Hutabarat dikenal bekerja mengikuti kaidah administrasi dan teknis yang berlaku.
“Beliau menjalankan tugas berdasarkan regulasi dan mekanisme resmi. Proyek pemerintah tidak dikerjakan oleh satu orang, tetapi oleh sistem yang terdiri dari konsultan perencana, pengawas, auditor, hingga tim teknis lapangan. Menyudutkan individu justru berpotensi menyesatkan opini publik,” tegasnya.
Tanggul Sungai Dalu Dalu sendiri dibangun sebagai upaya penghentian banjir yang telah menyebabkan 14 ribu hektare lahan sawah tidak dapat digarap selama empat tahun terakhir. Fungsi tanggul sangat vital bagi masyarakat di empat kecamatan—karena itu pemerintah berupaya melakukan pembangunan dua kali untuk memberi perlindungan maksimal. Namun kenyataannya, kekuatan air sungai dalam beberapa minggu terakhir mengalami peningkatan drastis, terutama dari hulu Simalungun, yang memicu tekanan hidrolik luar biasa.
Para ahli menyebut bahwa fenomena “tendangan air” dan gerusan dasar sungai (scouring) dapat merusak struktur beton berstandar tinggi sekalipun. Daya tekanan air yang menyerang dari sisi bawah dan samping mampu mengikis tanah penopang dan menyebabkan tembok penahan patah. Dengan kata lain, kerusakan ini sangat mungkin terjadi meski konstruksi telah mengikuti spesifikasi.
Dalam keadaan seperti ini, penanganan tanggul harus dilakukan secara bertahap dengan prioritas pada keselamatan warga dan penyelamatan lahan pertanian. Pemerintah daerah disebut telah bergerak cepat melakukan penanganan darurat berupa penguatan titik rawan serta memetakan langkah mitigasi jangka panjang.
Sumut Foundation meminta seluruh pihak menjaga suasana kondusif dan tidak memperkeruh keadaan dengan penilaian yang prematur. “Tanggung jawab kita saat ini adalah memastikan penanganan darurat berjalan baik dan mendorong evaluasi profesional. Kritik itu penting, tetapi harus berdasar data. Jangan ada penghakiman sosial terhadap pejabat atau pihak mana pun,” kata Direktur Eksekutif Sumut Foundation.
Ia juga menegaskan pentingnya membangun solidaritas bersama. “Di tengah bencana seperti ini, masyarakat, pemerintah, pemuda, dan tokoh lokal harus bersatu. Kita butuh langkah strategis, bukan saling menyudutkan. Tanggul yang rusak bisa dibangun ulang, tetapi kepercayaan publik rusak bila opini liar dibiarkan,” tambahnya.
Sumut Foundation menyatakan siap mendorong kajian akademik, termasuk analisis aliran sungai, rekonstruksi teknis, dan rekomendasi mitigasi permanen. Lembaga tersebut juga mengajak semua pemangku kepentingan untuk melihat peristiwa ini sebagai momentum memperkuat tata kelola sungai di Sumatera Utara. (Red)